Seri Reformasi Layanan Primer — Buku 7

Buku Putih Kretek & Galenika

Warisan Budaya, Agenda Riset, dan Perdebatan Kesehatan Masyarakat di Balik Sebuah Proposal Pusat Kajian
PenulisDr.dr. Jack Roebijoso, M.Sc.(om)., PKK.
Editor / PenyusunDr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
PenerbitPerpustakaan Digital ABBA · 2026

Daftar Isi

1. Jejak Sejarah Kretek: Dari Obat Sesak Napas ke Industri Nasional 2. Proposal Pusat Kajian: Visi, Misi, dan Strategi P3KG UB Rangkuman & Penutup Daftar Pustaka Glosarium Tentang Penulis & Editor
Kata Pengantar Editor

Buku ketujuh ini berbeda dari enam buku sebelumnya dalam seri ini. Jika buku 1-6 membahas layanan kesehatan primer dan K3, buku ini adalah dokumen kebijakan tersendiri: sebuah draf proposal tahun 2012 yang diajukan Dr.dr. Jack Roebijoso untuk mendirikan Pusat Kajian, Penelitian, dan Pengembangan Kretek dan Galenika (P3KG) di Universitas Brawijaya, Malang.

Sebagai editor, saya merasa penting untuk menyajikan naskah ini dengan kejujuran penuh sekaligus konteks yang berimbang. Topik kretek/tembakau adalah salah satu isu kesehatan masyarakat paling diperdebatkan di dunia: di satu sisi merupakan warisan budaya dan sumber ekonomi jutaan petani dan pekerja industri rumahan di Indonesia; di sisi lain, produk tembakau termasuk kretek terbukti secara ilmiah menjadi penyebab utama berbagai penyakit tidak menular mematikan. Buku ini menyajikan argumen penulis mengenai potensi kajian ilmiah dan ekonomi kretek/galenika apa adanya, namun pada kotak "Perspektif Tambahan" saya secara sengaja menghadirkan posisi kesehatan masyarakat global (WHO Framework Convention on Tobacco Control dan data Kementerian Kesehatan RI) sebagai penyeimbang, agar pembaca dapat menilai isu ini secara utuh dari berbagai sudut pandang, bukan hanya dari satu sisi.

Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Editor / Penyusun

BAB 1

Jejak Sejarah Kretek: Dari Obat Sesak Napas ke Industri Nasional

Penulis membuka proposalnya dengan menelusuri asal-usul kretek sebagai bagian dari warisan pengobatan tradisional Nusantara.

Kisah Haji Djamhari dan Lahirnya Rokok Kretek

Menurut penulis, kretek bermula dari kisah Haji Djamhari di Kudus sekitar tahun 1870, yang mencari obat untuk sakit dada (diduga asma) dengan mencampurkan rajangan bunga cengkeh kering ke dalam lintingan tembakau klobot (dibungkus daun jagung). Nama "kretek" sendiri, menurut penulis (mengutip sejarawan Amen Budiman dan Onghokham), berasal dari bunyi "kretek-kretek" khas yang dihasilkan saat rajangan cengkeh kering terbakar. Penulis juga mengaitkan tradisi ini dengan kebiasaan mengunyah sirih-pinang-gambir-kapur masyarakat Hindia Belanda yang telah ada ratusan tahun sebelumnya sebagai bagian dari ritual dan interaksi sosial.

Kretek sebagai Simbol Persaingan Ekonomi Bangsa

Penulis membingkai persaingan antara kretek (produk agrobisnis dan industri rakyat asli Indonesia) dengan rokok putih impor sebagai representasi pertarungan lebih besar antara produk negara berkembang dengan skala industri rakyat versus produk negara maju berskala industri besar. Ia turut menyinggung perdebatan lama seputar klaim kesehatan komparatif antara minyak kelapa (produk negara berkembang) versus minyak kedelai/bunga matahari (produk negara maju) sebagai contoh bagaimana temuan kesehatan dapat menjadi bagian dari kontestasi ekonomi global — echo dari kritik "medical industrial complex" yang juga muncul pada buku pertama seri ini.

✦ Perspektif Tambahan — Fakta Kesehatan Masyarakat tentang Produk Tembakau

Terlepas dari nilai historis dan budaya kretek yang dipaparkan penulis, penting dicatat bahwa World Health Organization melalui Framework Convention on Tobacco Control (WHO FCTC, 2003) — yang telah diratifikasi lebih dari 180 negara — menegaskan bahwa seluruh produk tembakau, termasuk kretek, terbukti secara ilmiah meningkatkan risiko kanker paru, penyakit jantung, stroke, dan penyakit paru obstruktif kronik. Riset spesifik tentang kretek, misalnya yang dipublikasikan dalam jurnal Tobacco Control, bahkan menunjukkan kadar tar dan nikotin kretek yang secara umum lebih tinggi dibanding rokok putih konvensional akibat proses pembakaran cengkeh serta senyawa eugenol di dalamnya. Kementerian Kesehatan RI melalui Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dan berbagai survei prevalensi merokok juga secara konsisten mencatat tingginya beban penyakit tidak menular akibat konsumsi rokok/kretek di Indonesia sebagai salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar negara ini.

BAB 2

Proposal Pusat Kajian: Visi, Misi, dan Strategi P3KG UB

Inti dari naskah penulis adalah proposal kelembagaan lengkap untuk mendirikan Pusat Kajian, Penelitian, dan Pengembangan Kretek/Galenika di Universitas Brawijaya, disusun dengan kerangka manajemen strategik yang sama seperti dipakai penulis pada buku-buku kliniknya.

Visi, Misi, dan Cakupan Kajian Multidisiplin

Penulis merumuskan visi pusat kajian ini sebagai "pusat kajian, penelitian, pengembangan kretek/galenika nasional, dunia", dengan misi mengembangkan organisasi dan manajemen pusat kajian yang mendukung produk asli sebagai alat kemandirian bangsa di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi kretek/galenika. Cakupan kajian yang diusulkan sangat luas: agroindustri bahan baku (hulu-hilir), teknologi manufaktur, aspek ekonomi-sosial-budaya-pariwisata-ketahanan nasional, aspek kedokteran dan kesehatan (termasuk potensi "kretek sehat"/devine kretek yang disebut penulis), hingga aspek teknologi kimia-biologi-fisika bahan baku kretek/galenika.

Struktur Manajemen Strategik dan Nilai Organisasi

Sebagaimana pada model manajemen strategik klinik dokter keluarga yang dibahas pada Buku 2 dari seri ini, penulis merancang P3KG UB dengan kerangka visi-misi-objektif-strategi-program-perintah kerja-modul-format yang identik, menunjukkan konsistensi metodologis penulis dalam merancang setiap institusi yang ia gagas. Nilai inti organisasi yang diusulkan adalah "Pride, Proud, Prestige of Indonesian with Kretek/Galenicum" — menegaskan dimensi kebanggaan nasional sebagai motivasi utama di balik proposal ini.

✦ Perspektif Tambahan — Menimbang Riset Ekonomi versus Pengendalian Tembakau

Perdebatan antara nilai ekonomi-budaya industri kretek dan agenda pengendalian tembakau adalah isu kebijakan publik yang nyata dan berkelanjutan di Indonesia — salah satu dari sedikit negara di dunia yang belum meratifikasi WHO FCTC, sebagian karena pertimbangan dampak ekonomi terhadap petani tembakau/cengkeh dan pekerja industri rokok. Kajian akademik seperti yang dipublikasikan lembaga riset independen (misalnya studi Bank Dunia tentang ekonomi tembakau Indonesia) mengakui kompleksitas ini: bahwa kebijakan pengendalian tembakau memang perlu mempertimbangkan dampak sosial-ekonomi pada petani dan buruh, namun secara paralel tetap merekomendasikan penguatan regulasi kesehatan seperti cukai rokok dan pembatasan iklan sebagai instrumen kebijakan yang telah terbukti efektif menurunkan prevalensi merokok tanpa serta-merta menghapus sektor pertanian tembakau/cengkeh itu sendiri.

Penutup

Rangkuman & Penutup

Buku ketujuh ini sengaja ditempatkan terpisah dari enam buku lain dalam seri ini karena topiknya — kretek dan galenika — berbeda ranah dari fokus utama pemikiran Dr.dr. Jack Roebijoso tentang layanan kesehatan primer. Namun demikian, proposal ini tetap menunjukkan konsistensi gaya berpikir penulis: kecenderungan menyoal dominasi kepentingan besar (baik industri farmasi global maupun industri rokok putih impor) atas produk dan kearifan lokal Indonesia, serta keyakinannya bahwa riset ilmiah yang mandiri dan komprehensif adalah jalan keluar yang tepat.

Sebagai editor, saya memandang penting pembaca memahami bahwa proposal pendirian pusat kajian semacam ini — betapa pun menarik dari sudut pandang sejarah, ekonomi, dan kemandirian bangsa — perlu tetap ditimbang berdampingan dengan bukti ilmiah kesehatan masyarakat yang telah mapan tentang bahaya konsumsi produk tembakau bagi individu maupun beban kesehatan nasional secara keseluruhan.

Referensi

Daftar Pustaka

Rujukan Istilah

Glosarium

Kretek
Rokok khas Indonesia yang bahan bakunya dicampur rajangan cengkeh kering, menghasilkan bunyi "kretek-kretek" saat dihisap.
Galenika
Istilah farmasi untuk sediaan obat/bahan yang diolah dari bahan alam (herbal/nabati); dalam konteks proposal ini merujuk pada bahan baku terkait kretek.
P3KG
Pusat Kajian, Penelitian, Pengembangan Kretek dan Galenika, nama pusat riset yang diusulkan penulis di Universitas Brawijaya.
WHO FCTC
WHO Framework Convention on Tobacco Control, traktat kesehatan global untuk pengendalian konsumsi tembakau.
Riskesdas
Riset Kesehatan Dasar, survei kesehatan nasional berkala oleh Kementerian Kesehatan RI.
Devine Kretek (Kretek Sehat)
Istilah yang dipakai penulis untuk gagasan pengembangan varian kretek dengan profil risiko kesehatan yang diklaim lebih rendah, sebuah konsep yang masih memerlukan pembuktian ilmiah independen.
Kolofon

Tentang Penulis & Editor

Tentang Penulis

Dr.dr. Jack Roebijoso, M.Sc.(om)., PKK. menyusun proposal Pusat Kajian, Penelitian, Pengembangan Kretek dan Galenika ini pada 2012 sebagai gagasan pengembangan riset multidisiplin di Universitas Brawijaya, terinspirasi oleh keyakinannya akan pentingnya kemandirian bangsa dalam penguasaan ilmu pengetahuan atas produk-produk khas Indonesia.

Tentang Editor

Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom. menyusun ulang proposal penulis menjadi buku ketujuh dari seri ini, dengan menambahkan konteks kebijakan pengendalian tembakau global dan nasional agar pembaca memperoleh gambaran yang berimbang atas isu yang kompleks dan sensitif ini.