Buku ketiga ini adalah "buku pegangan operasional" dari seri pemikiran Dr.dr. Jack Roebijoso. Jika dua buku sebelumnya membahas filosofi dan manajemen strategik, buku ini menjawab pertanyaan paling praktis: apa saja sepuluh kegiatan pokok yang sehari-hari harus dijalankan sebuah klinik dokter keluarga atau Puskesmas, dan bagaimana cara mendiagnosis pasien secara holistik, bukan sekadar klinis?
Menariknya, penulis juga menulis ulang sebagian materi edukasi kesehatan ini dalam bahasa Jawa ("Buku Saku Jowo") — sebuah pilihan yang menunjukkan keyakinannya bahwa pemberdayaan hidup sehat hanya efektif bila disampaikan dalam bahasa dan idiom yang akrab dengan masyarakat sasaran, bukan sekadar bahasa medis formal.
Kotak "Perspektif Tambahan" pada bab-bab berikut menghubungkan modul teknis penulis dengan kerangka promosi kesehatan WHO (Ottawa Charter) dan pedoman komunikasi risiko kesehatan kontemporer.
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Editor / Penyusun
Modul inti yang disusun Tim Dokter Keluarga pimpinan penulis pada 2017 (diperbarui 2023) merumuskan sepuluh "usaha pokok" yang menjadi kerangka kerja standar klinik dokter keluarga/FKTP.
Usaha Pokok 1 dalam modul ini adalah kemampuan melakukan diagnosis holistik-komprehensif dan intervensi holistik. Penulis mengakui bahwa secara teori, pendekatan bio-psiko-sosio-kultural (model klasik Engel) memang ideal namun sulit diaplikasikan langsung dalam praktik sehari-hari yang serba terbatas waktu. Sebagai solusi praktis, ia merumuskan tiga aspek penilaian: status biofisio-medik (morbiditas, mortalitas, kecacatan), faktor risiko yang berperan, dan upaya pemberdayaan hidup sehat yang relevan.
Struktur "Format Diagnosa Holistik" yang menyertai modul ini menguraikan kata kunci pemberdayaan hidup sehat dalam tujuh langkah: informasi, edukasi, motivasi, mobilisasi, advokasi, fasilitasi, dan survailans — diterapkan pada dua puluh penyakit/keluhan terbanyak di layanan primer, dengan contoh kasus seperti keluhan sesak napas yang dijabarkan aspek klinis (symptom/patofisiologi), faktor pemicu, hingga tindakan/perawatan medis-farmasi yang relevan.
Kerangka bio-psiko-sosial yang menjadi rujukan penulis pertama kali dipopulerkan psikiater George L. Engel dalam artikelnya di jurnal Science (1977), "The Need for a New Medical Model: A Challenge for Biomedicine", yang hingga kini tetap menjadi rujukan standar pendidikan kedokteran keluarga di berbagai negara meski implementasinya memang diakui menantang dalam praktik klinis padat waktu — persis seperti yang dikeluhkan penulis. Beberapa pengembangan lanjutan, seperti model bio-psiko-sosio-spiritual yang diusulkan berbagai peneliti kedokteran paliatif, menambahkan dimensi spiritual — sejalan dengan penekanan penulis pada aspek spiritual dalam pendekatan holistiknya.
Selain diagnosis holistik, modul usaha pokok mencakup kegiatan-kegiatan operasional klinik dokter keluarga lain yang saling terkait: manajemen rekam medis keluarga, kegiatan promotif-preventif terjadwal, kunjungan rumah, kolaborasi rujukan berjenjang, hingga evaluasi mutu pelayanan — seluruhnya dirancang agar 60% kegiatan klinik berorientasi promotif/preventif dan 40% kuratif dasar, proporsi yang konsisten dengan visi penulis pada buku-buku sebelumnya dalam seri ini.
Bab ini membahas kerangka operasional promosi kesehatan yang dirancang penulis sebagai penjabaran dari 60% porsi kegiatan promotif-preventif klinik dokter keluarga.
Penulis merinci enam bentuk kegiatan promosi-prevensi kesehatan yang dapat dilakukan tim dokter keluarga/DLP: pemberian informasi kesehatan (media audio-visual), edukasi kesehatan (audio-visual dan tatap muka), motivasi kesehatan (ceramah, simulasi), mobilisasi kesehatan (metode langsung/tidak langsung), advokasi kesehatan (klasifikasi sederhana hingga lanjut), dan fasilitasi kesehatan (penyediaan alat/teknologi tepat guna sesuai jenis masalah kesehatan, bekerja sama dengan Dinas Kesehatan atau jejaring rujukan).
Dalam "Konsep Menyusun Materi dan Metode Edukasi & Advokasi Kesehatan Praktis oleh Dokter Keluarga", penulis menyusun modul edukasi terstruktur untuk keluhan-keluhan tersering di layanan primer: batuk-pilek, pusing, tekanan darah tinggi, penyakit otot-sendi-tulang-punggung, gatal/alergi kulit dan jerawat, hingga gangguan berkemih — masing-masing dilengkapi penjelasan awam yang mudah dipahami pasien tanpa latar belakang medis.
Untuk menjangkau masyarakat Jawa Timur secara lebih akrab dan membumi, penulis juga menerbitkan versi ringkas materi edukasi ini dalam bahasa Jawa ("Buku Saku Jowo") — sebuah keputusan yang mencerminkan kepekaannya terhadap keberagaman bahasa dan budaya lokal dalam praktik pemberdayaan kesehatan.
Kerangka informasi-edukasi-motivasi-mobilisasi-advokasi-fasilitasi yang disusun penulis beririsan dengan lima area aksi promosi kesehatan dalam Ottawa Charter for Health Promotion (WHO, 1986): membangun kebijakan publik berwawasan kesehatan, menciptakan lingkungan mendukung, memperkuat aksi komunitas, mengembangkan keterampilan personal, dan reorientasi layanan kesehatan. Adapun keputusan menggunakan bahasa lokal (Jawa) sejalan dengan prinsip literasi kesehatan (health literacy) yang ditekankan berbagai studi Kemenkes RI dan WHO — bahwa efektivitas edukasi kesehatan sangat ditentukan kesesuaian bahasa dan konteks budaya sasaran, bukan semata kebenaran isi materi secara medis.
Buku ketiga ini melengkapi dua buku sebelumnya dengan menghadirkan "buku kerja" harian bagi tim dokter keluarga: sepuluh usaha pokok, format diagnosis holistik, dan modul edukasi-advokasi yang siap pakai. Nilai penting yang dapat dipetik adalah konsistensi penulis dalam menerjemahkan gagasan besar tentang kedokteran holistik menjadi langkah-langkah operasional yang konkret dan dapat diajarkan kepada tenaga kesehatan lain.
Kehadiran versi bahasa Jawa dari materi edukasi ini juga menjadi pengingat penting bahwa pemberdayaan kesehatan masyarakat Indonesia yang sangat majemuk memerlukan kepekaan bahasa dan budaya lokal — sebuah pelajaran yang relevan bagi siapa pun yang ingin mereplikasi model ini di wilayah lain dengan bahasa daerah masing-masing.
Dr.dr. Jack Roebijoso, M.Sc.(om)., PKK. menyusun modul usaha pokok pelayanan kesehatan primer bersama Tim Dokter Keluarga binaannya sejak 2017, dan terus memperbaruinya (edisi 2023) berdasarkan pengalaman lapangan mengedukasi ribuan keluarga di wilayah kerja klinik dan Puskesmas binaannya.
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom. menyusun ulang modul teknis dan materi edukasi penulis menjadi buku ketiga dari seri ini, dengan menambahkan konteks teori promosi kesehatan global agar dapat menjadi rujukan yang lebih luas bagi tenaga kesehatan primer di Indonesia.