Dari seluruh naskah yang saya terima dari Dr.dr. Jack Roebijoso, "Primbon Hidup Sehat" mungkin yang paling personal dan paling sering diperbarui — penulis menerbitkan setidaknya tiga varian: edisi umum berbahasa Indonesia bernuansa Islami (2025), versi berbahasa Inggris, dan versi Kristiani. Kata "primbon" sendiri sengaja dipilih penulis dari khazanah Jawa yang berarti kitab pedoman hidup, untuk menegaskan bahwa panduan hidup sehat semestinya menyatu dengan nilai spiritual keseharian, bukan berdiri terpisah sebagai instruksi medis yang dingin.
Sebagai editor, saya memandang penting untuk menyajikan ketiga varian ini secara berimbang dan respektif: bukan untuk mempromosikan satu agama tertentu, melainkan untuk menunjukkan metodologi penulis — bahwa pesan inti pemberdayaan hidup sehat (informasi, edukasi, motivasi, mobilisasi, advokasi, fasilitasi, evaluasi diri) tetap konsisten, sementara bungkus nilai spiritualnya disesuaikan dengan keyakinan pembaca sasaran. Pendekatan inkulturasi semacam ini punya dasar kuat dalam literatur kesehatan masyarakat, sebagaimana diuraikan pada kotak "Perspektif Tambahan" di bawah.
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Editor / Penyusun
Landasan konseptual seluruh varian Primbon Hidup Sehat dijelaskan penulis dalam naskah tersendiri berjudul "Penjelasan Algoritma Berfikir Sehat".
Penulis mengacu pada model determinan kesehatan klasik Blum-LaLonde (1970) yang menyebut empat faktor utama status kesehatan perorangan: genetik/keturunan, lingkungan, perilaku, dan pelayanan kesehatan. Penulis kemudian memperluas kerangka ini pada tahun 2000 dengan menambahkan dimensi spiritual dan sosial-budaya secara eksplisit, sehingga terbentuk algoritma berpikir sehat yang holistik: faktor biologis (bakat/kepekaan organ terhadap stres, suhu, debu, dsb.), faktor psikososial, dan faktor spiritual sebagai satu kesatuan yang saling memengaruhi terjadinya penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes, stroke, jantung koroner, kolesterol/asam urat tinggi, hingga kanker.
Model yang dirujuk penulis berakar dari kerangka Marc Lalonde, "A New Perspective on the Health of Canadians" (1974), laporan pemerintah Kanada yang pertama kali secara formal menyatakan bahwa perilaku dan lingkungan berkontribusi lebih besar terhadap status kesehatan dibanding pelayanan medis semata — gagasan revolusioner pada masanya yang kini menjadi dasar kebijakan promosi kesehatan di banyak negara. Penambahan dimensi spiritual oleh penulis juga sejalan dengan definisi kesehatan WHO yang sejak konstitusi awalnya (1948) mencakup keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial, meski dimensi spiritual secara eksplisit memang masih diperdebatkan sebagai komponen resmi definisi kesehatan WHO hingga kini.
Konsisten dengan modul-modul sebelumnya dalam seri ini, Primbon Hidup Sehat mengorganisasikan pesannya dalam tujuh langkah pemberdayaan: informasi hidup sehat, edukasi, motivasi, mobilisasi, advokasi, fasilitasi, dan evaluasi diri. Penulis menambahkan istilah "dakwahkan" pada bagian penutup setiap bab — mendorong pembaca yang telah menerapkan pola hidup sehat untuk turut menyebarkannya kepada orang lain di lingkungan sekitarnya, menjadikan kesehatan sebagai amal yang menular secara sosial.
Bab ini menguraikan bagaimana penulis menyesuaikan bungkus nilai spiritual Primbon Hidup Sehat untuk tiga kelompok pembaca berbeda tanpa mengubah inti pesan kesehatannya.
Pada edisi umum (2025), penulis menyisipkan rujukan nilai keagamaan Islam sebagai penguat motivasi, misalnya menegaskan bahwa filsafat hidup seseorang sangat berhubungan dengan kondisi kesehatannya, dan bahwa sikap sabar-ikhlas diyakini dapat membantu mencegah berbagai penyakit degeneratif di atas — sebuah pesan yang ia kaitkan dengan ayat Al-Baqarah 153 tentang pertolongan melalui kesabaran.
Untuk pembaca Kristiani, penulis menyusun ulang naskah dengan penekanan nilai spiritual yang relevan dengan ajaran Kristiani, sementara struktur tujuh langkah pemberdayaan hidup sehatnya tetap dipertahankan identik. Demikian pula edisi berbahasa Inggris (Juli 2025), yang disusun penulis untuk menjangkau pembaca internasional atau keluarga lintas budaya, tetap mempertahankan kerangka inti yang sama namun dengan gaya penyampaian universal yang lebih netral secara religius.
Sebagai pelengkap praktis ketiga edisi ini, penulis turut merancang "Kalender Sehat" — lembar pemantauan mandiri (self-monitoring form) berbentuk tabel harian yang mencatat enam perilaku kunci: doa/dzikir-sabar-ikhlas, makan-minum penuh kesadaran (mindful eating), bergerak/olahraga sambil berdzikir/berdoa, kepatuhan konsumsi obat sesuai anjuran, konsultasi rutin dengan dokter keluarga, dan upaya menyebarkan (dakwah) nasihat kesehatan kepada orang lain — dilengkapi kolom hasil klinis dan laboratorium sebagai bukti dampak kesehatan riil dari perilaku yang dipantau.
Praktik menyesuaikan materi kesehatan dengan nilai agama pembaca (faith-based health communication) memiliki dasar riset yang berkembang pesat. Tinjauan sistematis "Health Programs in Faith-Based Organizations" (American Journal of Public Health, terindeks di National Institutes of Health/PMC) menemukan bahwa program kesehatan berbasis komunitas keagamaan secara konsisten berhasil menurunkan kadar kolesterol dan tekanan darah serta meningkatkan pemeriksaan kesehatan preventif pada peserta program. Instrumen self-monitoring seperti "Kalender Sehat" milik penulis juga sejalan dengan prinsip self-monitoring dalam pendekatan Cognitive Behavioral Therapy, yang berbagai tinjauan sistematis tunjukkan efektif mendukung perubahan perilaku kesehatan jangka panjang.
Primbon Hidup Sehat menunjukkan sisi penulis sebagai seorang dokter yang meyakini bahwa kesehatan tidak dapat dipisahkan dari makna hidup dan nilai spiritual seseorang. Keputusannya menerbitkan tiga varian naskah untuk tiga kelompok pembaca berbeda — alih-alih memaksakan satu bungkus nilai untuk semua orang — mencerminkan penghormatan terhadap keberagaman keyakinan masyarakat Indonesia sekaligus konsistensi metodologis dalam menyampaikan pesan kesehatan yang sama.
Bagi pembaca dari latar belakang keyakinan mana pun, inti pesan buku ini tetap sama: perubahan gaya hidup dan ketenangan batin adalah dua sisi mata uang yang sama pentingnya dalam mencegah dan mengelola penyakit kronis, sejajar dengan peran obat dan pelayanan medis formal.
Dr.dr. Jack Roebijoso, M.Sc.(om)., PKK. menyusun seri Primbon Hidup Sehat melalui Yayasan Dian Atma Utama, dengan menerbitkan berbagai varian bahasa dan nilai spiritual untuk menjangkau kelompok pembaca yang lebih luas, sebagai bagian dari misinya memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat secara holistik.
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom. menyusun ulang ketiga varian Primbon Hidup Sehat menjadi satu buku pembanding yang utuh, dengan menambahkan konteks ilmiah tentang determinan kesehatan dan komunikasi kesehatan berbasis nilai agar relevan bagi pembaca lintas latar belakang.