Jika buku pertama dari seri ini berbicara tentang filosofi dan jiwa dokter keluarga, buku kedua ini turun ke tataran yang jauh lebih teknis dan praktis: bagaimana sesungguhnya sebuah klinik dokter keluarga dikelola sebagai organisasi. Dr.dr. Jack Roebijoso menuliskan gagasan ini dalam seri "YDKI" (singkatan yang beliau pakai untuk rangkaian kajian manajemen dokter keluarga), berdasarkan riset lapangan pribadinya terhadap 550 kepala keluarga dan 2.500 anggota keluarga pada 1997-1999.
Bagian kedua buku ini memuat kumpulan instrumen kerja penulis — format survei data dasar, skala distress pasien, hingga draf nota kesepahaman dan pakta integritas dengan BPJS — yang selama ini tersebar di berbagai berkas kerja lapangan. Saya menyusunnya menjadi satu narasi tentang bagaimana klinik dokter keluarga semestinya beroperasi dalam ekosistem Jaminan Kesehatan Nasional yang, menurut penulis, masih menghadapi banyak tantangan struktural.
Sebagaimana pada buku pertama, setiap bab dilengkapi kotak "Perspektif Tambahan" yang menautkan gagasan manajemen strategik penulis dengan teori manajemen organisasi kesehatan modern dan data resmi BPJS Kesehatan/DJSN, agar pembaca memperoleh gambaran yang utuh dari berbagai sudut pandang.
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Editor / Penyusun
Penulis membangun argumen manajemen strategiknya bukan dari teori semata, melainkan dari riset kualitatif studi kasus yang ia lakukan sendiri sebagai dokter perusahaan pada akhir 1990-an.
Penulis mendeskripsikan pelayanan kesehatan "lama" bercirikan orientasi individu, kuratif, non-holistik, non-advokasi, dan berbiaya tinggi. Sebagai perbandingan, ia merancang model manajemen kesehatan dokter keluarga baru yang menstandarkan 10 produk pelayanan kesehatan primer, dengan komposisi 60% promotif/preventif dan 40% kuratif dasar, ditujukan pada tiga sasaran: individu, keluarga, dan komunitas.
Riset studi kasus terhadap 550 kepala keluarga (2.500 anggota) selama periode 1997-1999 ini dianalisis dengan pola penjodohan (pattern matching), plot deret waktu, dan model logis — metode yang lazim dipakai dalam riset studi kasus kualitatif ala Robert Yin. Hasil yang dilaporkan penulis menunjukkan penurunan kunjungan berobat, kasus rawat inap, dan biaya kesehatan setelah intervensi model barunya diterapkan.
Metodologi studi kasus (case study research) yang dipakai penulis merujuk pada tradisi metodologi Robert K. Yin, "Case Study Research and Applications" — pendekatan yang sah dan lazim digunakan untuk fenomena kompleks dalam konteks nyata, terutama saat variabel sulit dikendalikan seperti pada intervensi organisasi kesehatan. Namun demikian, dari kacamata metodologi riset kesehatan modern, klaim penurunan biaya dan kunjungan idealnya perlu dilengkapi kelompok pembanding (control group) dan uji statistik inferensial agar dapat digeneralisasi lebih luas — sebuah catatan yang wajar mengingat riset ini dilakukan secara mandiri oleh praktisi lapangan, bukan lewat skema hibah riset institusional besar.
Bab ini merangkum inti dari YDKI Volume 2, yaitu teknik konkret menyusun visi-misi dan model manajemen strategik bagi klinik/praktik dokter keluarga sebagai bagian dari Sistem Kesehatan Daerah (SKD) di wilayah kerja Puskesmas.
Penulis merumuskan visi generik yang dapat diadaptasi setiap klinik dokter keluarga: "Menjadi sentuhan pertama untuk dapat hidup sehat" (Be the first touch for being healthy). Rumusan ini menegaskan posisi strategis FKTP sebagai bagian dari jejaring struktur pelayanan kesehatan primer dalam Sistem Kesehatan Nasional maupun Sistem Kesehatan Daerah, dengan peran memberdayakan, meningkatkan, dan menjaga derajat kesehatan sasaran layanan.
Penulis menekankan bahwa penyusunan strategi organisasi harus memperhitungkan perubahan kondisi global — termasuk tarikan antara liberalisme pasar bebas dan sosialisme kendali negara — sebagai konteks eksternal yang membentuk pilihan strategi klinik.
Pada level paling teknis (YDKI Vol. 2 Edisi II dan "Format Model Manajemen Strategik"), penulis menyusun kerangka lengkap: visi, misi, tujuan strategis, sasaran, dan program kerja operasional klinik dokter keluarga, lengkap dengan indikator keberhasilan berbasis luaran (outcome) dan bukan sekadar proses administratif semata.
Kerangka visi-misi-strategi-operasional yang disusun penulis sejalan dengan model manajemen strategik klasik yang diperkenalkan Fred R. David dalam "Strategic Management: Concepts and Cases", yang menekankan keselarasan (alignment) antara pernyataan visi/misi dengan strategi dan implementasi operasional organisasi. Dalam konteks organisasi kesehatan secara spesifik, kerangka Balanced Scorecard untuk rumah sakit dan klinik yang dikembangkan Kaplan & Norton juga banyak diadopsi untuk menerjemahkan visi menjadi indikator kinerja terukur di empat perspektif: keuangan, pelanggan, proses internal, dan pembelajaran/pertumbuhan — sebuah pelengkap metodologis bagi kerangka yang ditawarkan penulis.
Penulis merancang beberapa instrumen praktis untuk mendukung praktik manajemen strategik kliniknya sehari-hari, tiga di antaranya dibahas dalam bab ini.
Dua varian format survei ("STRAT 02" dan "STRAT 03") dirancang penulis untuk memetakan data dasar kesehatan keluarga binaan klinik — mencakup data demografis, sosial-ekonomi, dan status kesehatan sebagai basis perencanaan program promotif-preventif klinik.
Instrumen "Skala Distress (NN)" dirancang penulis sebagai kuesioner terstruktur untuk menjaring kondisi tekanan psikososial pasien/keluarga binaan, mencakup variabel usia, pendidikan, status pekerjaan, dan status perkawinan sebagai faktor yang berkorelasi dengan tingkat distress.
Sementara itu, materi presentasi "Analisa Rujukan Balik BPJS, Teknik Diagnosa Holistik, dan Kepuasan Pasien" menggunakan kerangka Total Quality Management untuk membandingkan pendekatan diagnosis klinis murni versus diagnosis klinis-plus-holistik pada kasus seperti carpal tunnel syndrome — menunjukkan bagaimana persepsi pasien bahwa "FKTP tidak ahli" dapat mendorong permintaan rujukan yang sebenarnya bisa dihindari lewat pendekatan holistik yang lebih meyakinkan pasien.
Instrumen semacam Skala Distress yang dirancang penulis memiliki padanan pada instrumen tervalidasi internasional seperti Kessler Psychological Distress Scale (K10) yang digunakan luas dalam survei kesehatan masyarakat, meski instrumen milik penulis dirancang sendiri untuk konteks kliniknya dan idealnya perlu melalui uji validitas-reliabilitas formal sebelum digunakan secara luas. Terkait rujukan berjenjang, data BPJS Kesehatan dan Kementerian Kesehatan RI memang secara konsisten mencatat rasio rujukan non-spesialistik dari FKTP sebagai salah satu indikator kinerja utama, karena rujukan yang tidak perlu membebani kapasitas FKRTL dan meningkatkan biaya sistem JKN secara keseluruhan.
Bab ini membahas bagaimana penulis memandang posisi klinik dokter keluarga dalam ekosistem BPJS Kesehatan yang lebih besar, termasuk usulan integrasi kelembagaan dan teknik pengendalian biaya.
Dalam naskah "Holding BPJS, Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer, Condicio Sine Qua Non", penulis mengangkat sorotan Presiden RI dalam audiensi bersama direksi BPJS Ketenagakerjaan bahwa program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) masih memerlukan banyak perbaikan pada kualitas layanan, manajemen klaim, dan perluasan kepesertaan — mengutip laporan defisit anggaran klaim BPJS Kesehatan yang saat itu mencapai sekitar Rp6 triliun per tahun (Kompas, 6 Januari 2017). Penulis berargumen bahwa integrasi kelembagaan antar-institusi pelayanan primer merupakan prasyarat mutlak (condicio sine qua non) untuk mengatasi persoalan struktural ini.
Penulis merangkum prinsip manajemen utilisasi dalam skema managed care: penetapan tarif secara prospektif, paket pelayanan (bundling of services), kajian pemanfaatan (utilization review), pengarahan pasien (patient channeling), dan program jaga mutu. Ia menjelaskan variasi skema tarif rawat inap seperti tarif diskon negosiasi, per diem, hingga skema DRG (Diagnosis Related Groups) sebagai instrumen pengendalian biaya yang lazim dipakai penyelenggara asuransi kesehatan di berbagai negara.
Dokumen "Pakta Integritas" yang disusun penulis pada masa pandemi COVID-19 — berupa surat pernyataan ketaatan pada protokol kesehatan (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan) — menunjukkan bagaimana penulis juga menerapkan prinsip manajemen mutu dan kepatuhan pada level kepesertaan program kesehatan komunitas binaannya.
Skema DRG (Diagnosis Related Groups) yang disinggung penulis memang menjadi rujukan sistem casemix INA-CBG yang digunakan BPJS Kesehatan untuk pembayaran klaim rumah sakit di Indonesia sejak awal penyelenggaraan JKN pada 2014. Adapun mengenai defisit BPJS Kesehatan yang disinggung penulis (data 2017), laporan tahunan dan audit BPKP/DJSN dari tahun ke tahun memang mencatat tantangan solvabilitas dana jaminan sosial kesehatan sebagai isu berulang yang mendorong berbagai kebijakan penyesuaian iuran dan perbaikan tata kelola klaim oleh pemerintah; per pertengahan 2026 BPJS Kesehatan melaporkan lebih dari 284 juta peserta JKN dan sekitar 23 ribu FKTP terdaftar, mencerminkan skala tantangan pengelolaan yang terus membesar seiring bertambahnya kepesertaan.
Buku kedua ini menunjukkan sisi lain dari pemikiran Dr.dr. Jack Roebijoso: bukan hanya seorang kritikus sistem, tetapi juga seorang perancang instrumen praktis — dari format survei, skala distress, hingga kerangka visi-misi klinik — yang lahir dari pengalaman mengelola langsung ribuan keluarga binaan selama puluhan tahun. Di titik inilah nilai buku ini terletak: menjembatani gagasan besar tentang keadilan kesehatan dengan alat kerja sehari-hari yang dapat langsung dipakai oleh pengelola klinik dokter keluarga di Indonesia.
Bagi pembaca yang berencana mengelola atau membangun klinik dokter keluarga, kerangka pada buku ini sebaiknya dipadukan dengan kaidah manajemen strategik dan tata kelola mutu kontemporer yang terus berkembang, termasuk regulasi BPJS Kesehatan yang senantiasa diperbarui dari waktu ke waktu.
Dr.dr. Jack Roebijoso, M.Sc.(om)., PKK. merancang seri kajian manajemen strategik klinik dokter keluarga (YDKI) berdasarkan riset lapangan pribadinya sejak akhir 1990-an sebagai dokter perusahaan yang mengelola ribuan keluarga karyawan binaan, kemudian mengembangkan berbagai instrumen survei dan model manajemen yang terus ia perbarui hingga tahun 2025.
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom. menyusun kembali instrumen-instrumen manajemen klinik dan kebijakan BPJS dari naskah penulis menjadi buku kedua dari seri ini, dengan menambahkan konteks teori manajemen organisasi kontemporer agar lebih mudah diterapkan pengelola klinik masa kini.